Langsung ke konten utama

Ekspresi Kita Menentukan Penerimaan Orang Lain Terhadap Informasi yang Kita Berikan

Ingin bercerita tentang hari kemarin.

Menjelang makan siang, kami dikejutkan dengan berita yang datang secara bisik-bisik dari lisan rekan kerja. Bisik-bisik karena ini info rahasia dan terbatas pada saat itu, namun setelahnya tidak lagi.

Beliau mengatakan bahwa pimpinan unit kami dinyatakan positif Covid-19.

sumber : pixabay.com

Sontak saja beberapa dari rekan kerja yang lain mulai heboh bertanya kanan-kiri sesiapa aja yang pernah kontak dengan beliau (sang pimpinan) sepulang beliau dari dinas di luar provinsi.

Salah satunya menunjukku. Oke oke, tidak ku pungkiri itu, nyatanya aku memang menemui beliau 3 hari setelah beliau melakukan test swab. Itupun cuma pertemuan yang super singkat, tidak sampai semenit. Namun sayangnya, saat itu, beliau tidak menggunakan masker dan jarak kami sekitar 1meter saja.

Rekan-rekan yang lain masih saja heboh mengusulkan agar aku test swab juga, menyuruhku segera karantina mandiri, dan sejenisnya.

Sebenarnya niat mereka baik, namun karena mereka memperlihatkan mimik yang cemas dan takut, itu terbawa kedalam diriku. Itu membuat ketenangan diriku berubah menjadi kekhawatiran yang tak dapat aku deskripsikan.Sampai menjelang tidur malamnya, aku baru bisa tenang.

Jadi ya, Intinya, segala sesuatu itu bisa berbeda reaksinya tergantung dari ekspresi dan intonasi bicara yang digunakan.

Seandai mereka menyampaikan dengan pembawaan yang tenang dan santai, insyaAllaah sampai ke dalam diri ini juga akan sama, tenang dan santai, dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Oh well, komunikasi yang baik itu penting wahai diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hy,

Selamat datang di blog saya. Blog ini berisi tulisan-tulisan saya yang sedang dalam proses belajar menulis . Semoga dapat memberi manfaat. Terimakasih.💖

Keluarga Bahagia beranjak dari Istri yang Bahagia

Kebahagiaan rumah tangga merupakan impian setiap insan. Terbentuknya kedamaian dalam masyarakat juga berawal dari keluarga yang bahagia. Namun, tahu gak sih keluarga yang bahagia itu bermula dari mana?  Yups! Sudah terpampang nyata pada judul. Keluarga bahagia itu beranjak dari Istri yang Bahagia, bagaimana tidak! Amanah seorang istri paling dominan dalam khazanah rumah tangga ini. Dengan banyaknya amanah tersebut, siapa juga yang akan tahan menanggungnya berlama-lama? Jika si pengemban amanah sudah drop karena stress (tertekan) maka kebahagiaan dalam rumah hanyalah sebatas mimpi sedap dimalam hari. Lalu, bagaimana menjadi istri yang bahagia? 1. Memahami makna kebahagiaan Rumah Tangga yang Hakiki Banyak orang yang mengukur kebahagiaan itu dengan nilai materi duniawi. Tapi setiap Keluarga muslim haruslah memiliki tujuan yang lebih agung, bukan dari sekedar duniawi saja, yakni menjadi keluarga yang bersatu kembali di Syurga-Nya. Kebahagiaan yang sebenarnya hanyalah disana sementara k...

Jadilah Istri Idaman

Bahagianya, memiliki sahabat yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Jika anda memilikinya walau hanya seorang saja, maka genggamlah tali persahabatan itu dengan erat, karena persahabatan yang seperti itulah yang kekal hingga ke negeri akhirat karena dijalin atas nama keta'atan kepada Allaah. Kali ini, salah seorang sahabatku tetiba menyodorkan sebuah buku yang berjudul "Surat Terbuka Untuk Para Istri" karya Ummu & Abu Ihsan Al-Atsari. Buku ini sudah malang melintang sering aku lihat di story social media-ku, ingin beli tapi tunggu deh nanti aja beli ke toko buku langganan, ujarku dalam hati. Siapa sangka, Allah buka jalannya buku itu sampai ke tanganku melalui perantara sabahatku ini. Sungguh, takdir Allah itu menakjubkan, (baru hanya soal buku ya, apa lagi yang lainnya, bisa bikin hati meleleh). Buku ini sudah hampir rampung aku baca, namun karena isinya penuh dengan ilmu yang sangat bermanfaat, ku pikir ada baiknya aku catat, agar bisa aku baca-baca lagi dikemudia...